| Penyakit
jantung koroner, stroke, diabetes, darah tinggi serta
kanker hati sekarang masih menjadi penyakit
pembunuh nomor satu di Indonesia. Belakangan, penyakit
tersebut tak hanya menyerang orang lanjut usia karena
faktor degeneratif tapi usia produktif yaitu 25-45 tahun.
Salah satu penyebab dari munculnya penyakit tersebut
adalah adanya akumulasi radikal bebas atau oksidan.
Radikal bebas dapat menghancurkan sistem jaringan dan
integritas DNA dalam tubuh kita. Kondisi ini menstimulus
percepatan proses penuaan, penghancuran lever dan menyebabkan
penyakit papan atas lainnya seperti penyakit jantung
dan kanker.
Setelah kemajuan industri, dan makin tingginya peluang
terkena penyakit tersebut, orang-orang beralih ke pengobatan
pencegahan, berupa minuman dari bahan natural. Salah
satunya adalah mengkonsumsi minuman yang mengandung
zat alami yang dapat mengurangi radikal bebas seperti
teh hitam atau black tea.
Khasiat teh hitam diungkap Guru Besar Pangan dan Gizi
Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr. Ali Khomsan
MS dan Ahli Spesialis jantung dr. Mohammad Taufik Spj.
”Memang benar teh hitam atau black tea mempunyai
manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung
koroner, mencegah penuaan dan juga bisa menurunkan kadar
kolesterol dalam darah” papar Prof Dr Ali Khomsan
MS.
Dia menjelaskan, dari berbagai referensi diketahui
black tea yang selama ini dikonsumsi masyarakat, cukup
banyak mengandung komponen senyawa yang baik bagi tubuh.
Utamanya adalah antioksidan serta Theaflavin cukup tinggi.
Senyawa itulah yang mempunyai efek dapat mengurangi
risiko-risiko penyakit seperti kanker dan mencegah jantung
koroner.
”Teh hitam atau black tea dibuat dari pucuk daun
teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung,
kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut
juga teh fermentasi,” katanya.
Hal senada diungkapkan dr H.Mohammad Taufik Sp.J. Dia
membenarkan black tea bermanfaat untuk mengurangi penyakit
jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.
Sayangnya, menurut dr H.Mohammad Taufik Sp.J, manfaat yang terkandung
dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh
masyarakat. Hal itu disebabkan kurangnya sosialisasi
maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat
black tea bagi kesehatan.
Beberapa waktu lalu, Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit
Jantung Harapan Kita Jakarta (RSJHK) juga memaparkan
hasil penelitiannya dalam talkshow dengan tema ”Efek
Teh Hitam dalam Mencegah dan Mengatasi Risiko Penyakit
Jantung Koroner” yang diadakan di Aula RSJHK Jakarta.
Menurut hasil penelitian tersebut, Katekin sebagai
zat yang disebut dapat melawan penyakit degeneratif
ternyata berupa senyawa Theaflavin. Senyawa ini merupakan
antioksidan, antikanker, antimutagenik, antidiabetes dan anti penyakit lainnya. Senyawa Theaflavin dalam
teh hitam jumlahnya cukup signifikan.
Secara sederhana antioksidan dinyatakan sebagai senyawa
yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi.
Berdasarkan sumbernya, anti oksidan dapat dibagi menjadi
antioksidan alami dan sintetis. Theaflavin merupakan
antioksidan alami yang sangat potensial.
Kemampuan Theaflavin sebagai penangkap radikal bebas
sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Aktivitasnya
sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi LDL (Low
Density Lippoprotein) ternyata menunjukkan hal yang
menakjubkan.
Dalam seduhan teh hitam, Theaflavin memberikan warna
merah kekuningan, sementara itu Thearubigin dan Theanapthoquinone masing-masing memberi warna merah kecoklatan dan kuning
pekat. Untuk hal rasa, bersama-sama Kafein, Theaflavin
yang ada dalam teh hitam memberikan rasa segar.
Penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa kebiasaan
minum teh hitam atau black tea dapat mencegah penimbunan
kolesterol pada pembuluh darah arteri, terutama pada
wanita. Minum teh hitam satu sampai dua cangkir mampu
menekan penimbunan kolesterol hingga 46 %, dan jika
minum empat cangkir dapat mencapai 69 %.
Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian di Amerika
Serikat yang menunjukkan serangan jantung berkurang
40 % pada orang-orang yang membiasakan minum teh hitam.
Teh hitam juga menunjukkan kemampuan yang meyakinkan
sebagai sumber bahan pangan alami bagi para penderita
diabetes terutama dalam kapasitasnya menaikkan aktifitas
insulin. Penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian
Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal
Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam
meningkatkan aktifitas insulin melebihi dari teh hijau
maupun teh Oolong.
Menurut Mohammad Taufik, biasanya, para ahli kesehatan
akan mempublikasikan hasil penelitiannya, setelah beberapa
kali melakukan penelitian. Bila hasil penelitiannya
menunjukkan hasil yang sama, baru penelitian tersebut
dipublikasikan. Namun bila baru satu kali penelitian,
hasilnya belum akan dipublikasikan.
Berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan
menjadi tiga jenis yaitu teh hitam (fermentasi atau
oksimatis, kependekan dari Oksidasi ensimatis), teh
Oolong dan teh hijau. Konsekuensi logis dari perbedaan
proses tersebut, menyebabkan lahirnya perbedaan produk
teh baik secara fisik maupun kimia.
Secara kimia, perbedaan yang paling menonjol adalah
perbedaan kandungan komposisi senyawa Polyfenol. Pada
proses pengolahan teh hitam, dan teh Oolong, sebagian
Katekin berubah menjadi Theaflavin, Thearubigin, dan
Theanaphtoquinone. Meski tidak sepopuler nenek moyangnya
(Katekin), Theaflavin sudah banyak dipelajari oleh sejumlah
peneliti. |